Tuesday, December 14, 2010

Gangguan Makan

Anorexia Nervosa
Gangguan ini ditandai dengan kekurusan, citra tubuh yang terdistorsi dan ketakutan intens terhadap kenaikan berat badan, kurangnya menstruasi antara gadis dan wanita, dan perilaku makan yang sangat terganggu. Beberapa individu dengan Anorexia menurunkan berat badan dengan diet ekstrim dan berlebihan.; yang lainnya dengan memancing makanan dimuntahkan, atau mengkonsumsi obat pencahar. Menurut beberapa studi, individu penderita Anorexia memiliki resiko kematian 10 kali lipat daripada individu yang tidak menderita gangguan ini. Banyak individu dengan Anorexia juga memiliki penyakit mental dan fisik, termasuk depresi, kecemaan, tingkah laku obsesif, jantung dan komplikasi syaraf, dan perkembangan fisik yang tidak normal.
Beberapa cara menyembuhkan Anorexia:
1) Mengembalikan kondisi individu ke berat badan normal
2) Merawat masalah mental mereka yang berhubungan dengan gangguan makan tadi
3) Mengurangi atau menghentikan tingkah laku atau pikiran yang menyebabkan gangguan makan tadi, dan mencegahnya kambuh lagi
Beberapa riset menyarankan penggunaan obat-obatan mungkin efektif dalam menyembuhkan penderita Anorexia. Atau bisa juga beberapa bentuk psikoterapi, temasuk psikoterapi individual, kelompok, dan keluarga, bisa membantu menyembuhkan alasan psikologis penyakit. Tetapi keefektivan treatment tergantung pada individu yang terkait dan kondisi mereka.

Bulimia Nervosa
Bulimia nervosa adalah gangguan makan yang meliputi aktivitas makan gila-gilaan, tidak terkontrol, dan diikuti dengan tindakan memancing makanan keluar dengan cara dimuntahkan. Tidak seperti penderita Anorexia, individu dengan Bulimia bisa diderita individu yang memiliki berat badan normal seusianya tetapi mereka tetap takut berat badan naik, dan sangat menginginkan berat badan turun, juga mereka merasa tidak puas dengan bentuk dan ukuran badan mereka. Gangguan ini juga disertai penyakit psikologis seperti depresi dan cemas.
Seperti Anorexia, treatment untuk penderita Bulimia melibatkan kombinasi beberapa pilihandan tergantung kebutuhan individu. Untuk mengurangi atau menghentikan binge-and-purge (makan dan muntah), pasian bisa mengikuti konseling tentang nutrisi dan psikoterapi termasuk cognitive behavioral threrapy (CBT)—terapi tingkah laku kognitif, atau penggunaan obat-obatan. CBT juga disesuaikan untuk menyembuhkan Bulimia yang efektif juga untuk mengubah binging and purging behavior, dan tingkah laku makan. Terapi bisa terapi per individu atau kelompok.
Binge-Eating Disorder
Gangguan makan berlebihan ditandai dengan makan dengan jumlah gila-gilaan yang menyebabkan hilang control terhadap tindakan makannya. Berbeda dari Bulimia, gangguan makan berlebihan tidak diikuti dengan tindakan memuntahkan makanan atau olahraga berlebihan atau berpuasa. Hasilnya, individu dengan gangguan ini biasanya menderita obesitas. Mereka merasakan rasa bersalah, malu dan/atau stress terhadap tingkah laku makan mereka, yang lebih menyebabkan mereka lebih melakukannya.
Individu dengan gangguan ini biasanya menderita penyakit psikologis meliputi kecemasan, depresi, dan kelainan kepribadian. Ditambah lagi adanya hubungan obesitas dengan penyakit jantung dan hipertensi.
Treatment untuk gangguan makan berlebihan mirip dengan treatment untu penderita Bulimia. Obat-obatan tertentu seperti antidepressants bisa membantu mengurangi gangguan ini dan mengurangi depresi. Psikoterapi, khususnya CBT, juga bisa diterapkan untuk masalah psikologis terkait makan-berlebihan, pada lingkungan kelompok atau individu.

Mengenal Mnemonic

Mnemonic devices merupakan teknik khusus untuk membantu mengingat isolated items dengan cara menambahkan meaning atau imagery atas items yang sulit untuk diingat.

Beberapa diantaranya:

Acronyms

Membuat singkatan berdasarkan huruf-huruf awal (atau clue lainnya) dari item yang ingin diingat. Misalnya akronim dari mnemonic devices adalah I AM PACK (Interactive image, Acronyms, Method of Loci, Pegwords, Acrostics, Categories, and Keywords). Apa akronim lainnya?

Integrative images

Untuk meningkatkan ingatan, seseorang dapat membangun representasi visual dari kata-kata tersebut, dan menggambarkan interaksi antara item-item bersangkutan. Misal ingin mengingat lilin, meja, gelas, rendang, dan tudung saji maka bayangkanlah “di atas meja tergeletak ‘gelas kosong’, disampingnya ada semangkuk ‘rendang’, lalu semua itu tertutup ‘tudung saji’ dan tidak jauh dari benda-benda tersebut ada sebuah ‘lilin’ yang menyala.”

Method of loci

Konsisten dengan memvisualisasikan area familiar dengan pemandangan berbeda yang dapat dihubungkan dengan item yang ingin diingat. Kemudian, secara mental, melewati satu-persatu pemandangan itu dan memvisualisasikan image dari kata-kata baru dan pemandangan tersebut. Misal memvisualisaikan ‘meja’ ada di sebuah restoran, dengan ‘lilin-lilin’ yang menyebar di setiap meja dan seterusnya.

Pegword system

Daftar data dari item familiar dikaitkan (melalui interactive images) dengan item unfamiliar dalam daftar yang baru dibuat. Misal:

  • Do dari kata ‘sado’
  • Re hari telah ‘sore’
  • Mi biasa dengan bakso dan seterusnya

Acrostics

Huruf-huruf awal dari serangkaian item digunakan untuk membentuk kalimat. Misal: “me-ji-ku-hi-bi-ni-u”

Categorical clustering

Sejumlah item dikelompokkan ke dalam kategori guna memfasilitasi proses recalling item bersangkutan. Bila ingin mengingat untuk membeli apel, susu, anggur, yoghurt, keju, dan sirup rasa strawberry, maka cobalah menyusunnya dalam:

  • kategori buah-buahan – apel, anggur, sirup strawberry; dan
  • kategori makanan olahan – keju, susu, yoghurt.

Keyword system

Untuk mempelajari isolated words dalam bahasa asing, bentuklah interactive image yang terkait dengan bunyi dan makna dari bahasa asing tersebut dengan bunyi dan makna dari familiar word. Misal: Bahasa Perancis dari butter adalah beurre yang dilafalkan serupa dengan bear. Jadi, ingatlah bear untuk mengingat beurre.


Sejarah Skizofrenia

Istilah Skizofrenia berasal dari bahasa Jerman yaitu Schizo (= Perpecahan / Split) dan Phrenos (= Mind). Pada skizofrenia terjadi suatu perpecahan pikiran, perilaku dan perasaan.




EMIL KRAEPELIN (1856-1926)
Menyebut istilah skizofrenia dengan Demensia Prekoks (demensia yang terjadi pada usia dini) ditandai dengan proses kognitif yang makin lama makin memburuk dan disertai dengan gejala klinis berupa halusinasi dan waham

EUGEN BLEULER (1857-1939)
Memperkenalkan istilah skizofrenia, karena gangguan ini menyebabkan terjadinya perpecahan antara pikiran, emosi dan perilaku. Menurutnya ada 4 gejala fundamental (primer) untuk skizofrenia, yaitu :
1.    Asosiasi terganggu
2.    Afektif terganggu
3.    Autisme
4.    Ambivalensi
Sedang gejala pelengkapnya adalah waham dan halusinasi.

GABRIEL LANGFELDT
Membagi gejala psikotik menjadi 2 kelompok:
1.    True Schizophrenia (Nuclear Schizophrenia/Non remisi skizofrenia/ skizofrenia proses) pada kelompok ini dijumpai adanya depersonalisasi, autisme, emosi tumpul dan derealisasi. Onset biasanya perlahan-lahan.
2.    Psikosis skizofreniform (schizophrenic-like psychosis)
Kriteria diagnosis menurut Langfeldt :
1.    Kriteria Simptom.
merupakan petunjuk penting untuk mendiagnosis suatu skizofrenia (dapat digunakan apabila tidak ditemukan adanya tanda-tanda berupa gangguan kognitif, infeksi, atau intoksikasi). Kriteria ini meliputi : Perubahan kepribadian. Tipe katatonik, Psikosis Paranoid, Halusinasi kronis.
2.    Kriteria perjalanan penyakit.
 Ditegakkan bila perjalanan penyakit pada penderita tersebut telah diikuti selama kurang lebih 5 tahun.

KURT SCHNEIDER (1887-1967)
Membagi gejala skizofrenia menjadi 2 bagian, yaitu first rank symptom dan second rank symptom. First rank symptom penting untuk menegakkan diagnosis skizofrenia tetapi symptom tersebut tidak patognomonik.
First rank symptom terdiri dari :
1.    audible thought
2.    voices arguing / discussing
3.    voices commenting
4.    somatic passivity experiences
5.    thought withdrawal and experiences of influenced thought
6.    thought broadcasting
7.    delusional perceptions
Second rank symptom terdiri dari :
1.    gangguan persepsi lain
2.    ide yang bersifat waham tiba-tiba
3.    kebingungan
4.    perubahan mood depresi dan euforik
5. kemiskinan emosi

Homoseksual di Mata Psikologi

Saat ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Tentu saja acuan dari pernyataan diatas adalah DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / buku acuan diagnostik secara statistikal untuk menentukan gangguan kejiwaan) yang dibuat oleh ‘kiblat’ ilmu kejiwaan saat ini, yaitu APA alias asosiasi psikiatri Amerika. Di dalam DSM, yang sudah masuk ke edisi ke empat, homoseksualitas sudah tidak masuk ke dalam kategori gangguan kejiwaan manapun. Salah satu alasannya adalah karena syarat bagi sebuah perilaku untuk diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa dalam DSM adalah jika perilaku tersebut mengganggu kehidupan orang yang menderitanya. Ttemuan di lapangan menyatakan bahwa para homoseksual dapat hidup dengan normal dan bahagia.
Situs dari asosiasi psikologi Amerika (American Psychological Association) juga mengatakan dengan tegas bahwa homoseksualitas bukan sebuah gangguan. Kesimpulan yang mereka nyatakan ini berasal dari temuan bahwa, seperti yang di pakai oleh DSM untuk menyimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah sebuah gangguan, orang yang berorientasi seksual homoseksual (gay) dapat hidup dengan normal seperti orang lain.
Berikut adalah sejarah dari ditariknya homoseksual dari klasifikasi gangguan kejiwaan (Mental Disorder) oleh dunia ilmu kejiwaan:

Masa Psikologi Klasik – Jung, Adler dan Freud menyatakan bahwa homoseksualitas adalah sebuah gangguan kejiwaan. Saya belum menemukan penjelasan dari pandangan Jung dan Adler, tapi menurut Freud, homoseksualitas adalah sebuah bentuk fiksasi (berhentinya perkembangan mental) dari satu dimensi dari tahap perkembangan mental seseorang, sehingga orang normal adalah orang yang berhasil berkembang menjadi seorang heteroseksual.

DSM-I (DSM versi pertama) yang diterbitkan pada tahun 1952– menyatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan kepribadian sosiopathik. Artinya, orang yang memiliki orientasi seksual homoseksual memiliki kepribadian yang menyimpang dari norma sosial, dan penyimpangan ini harus diperbaiki.
DSM-II yang diterbitkan tahun 1968 – menghapus homoseksual dari daftar penyakit sosiopath dan memindahkannya ke daftar Sexual Deviation (penyimpangan seks).

DSM-III yang diterbitkan pada tahun 1973 – menyatakan bahwa homoseksualitas dinyatakan sebagai sebuah gangguan HANYA jika orientasi seksual homoseksual orang tersebut mengganggu dirinya (dia tak mau menjadi homoseksual). DSM-III kemudian mengalami revisi dan pada edisi revisi ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan sama sekali. Alasannya adalah, karena para komite DSM menyatakan bahwa adalah normal bagi seorang homoseksual untuk merasa terganggu dengan orientasi seksualnya pada saat ia pertama kali menyadari bahwa ia seorang homoseksual. Oleh karena itu perasaan terganggu yang dirasakan seorang homoseksual bukanlah sebuah gangguan.

Robert L. Spitzer, ketua komite pembuatan DSM III menyatakan bahwa homoseksualitas tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual. Tidak lebih.

 source:
www.apa.org
www.psych.org
http://ruangpsikologi.com/homoseksual